Guru Penggerak Bak “Kopassus” di dunia Pendidikan

04 Desember 2023

Media Center BPMP Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang - Guru Penggerak (GP) adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.

Sebelum menjadi guru Penggerak, akan dilaksanakan pelatihan daring, lokakarya, dan pendampingan individu bagi calon guru penggerak. Selama pelaksanaan program, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai guru.

Imam Edhi Priyanto M.M.Pd., Kepala Balai Guru Penggerak Provinsi Kepulauan Riau menyampaikan dalam sambutannya pada pembukaan Panen Hasil Belajar Calon Guru Penggerak Angkatan 8 Kabupaten Bintan (4/12) bahwa calon Guru Penggerak sudah melewati tahapan-tahapan seleksi yang prosesnya tidak mudah.

“Guru Penggerak yang saat ini (CGP Angkatan 8 Kab. Bintan) sudah berjuang dari 6 bulan yang lalu, sudah melewati tahapan seleksi yang tidak mudah. Selama 6 bulan luar biasa yang telah mereka lakukan”, ungkap Imam.


Dikutip dari laman https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak, Untuk menjadi guru penggerak, guru harus lulus seleksi tahap 1 (CV, Esai) dan tahap 2 (Simulasi Mengajar dan Wawancara) dan mengikuti pendidikan guru penggerak selama enam (6) bulan.

Program Pendidikan Guru Penggerak adalah program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Proses pendidikan meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 6 bulan bagi calon Guru Penggerak. Pelatihan daring dilaksanakan dengan perpaduan moda sinkron (pertemuan virtual) dan asinkron (mengakses materi atau mengerjakan tugas secara mandiri).

Lokakarya dilakukan satu kali setiap bulan di wilayah masing-masing, dengan dipandu oleh Pengajar Praktik. Topik lokakarya diselaraskan dengan pelatihan daring, sementara pada lokakarya ke-7 ada kegiatan berbagi praktik baik dengan mengundang para pemangku kepentingan di bidang pendidikan daerah tersebut.

Seminggu sebelum lokakarya, Pengajar Praktik akan berkunjung ke sekolah calon Guru Penggerak. Pendampingan individu ini bertujuan untuk membantu Calon Guru Penggerak menerapkan hasil pembelajaran daring dan lokakarya, serta berdialog untuk merefleksikan proses kemajuan yang telah dijalani.

Keseluruhan proses pembelajaran Pendidikan Guru Penggerak berlangsung selama 310 jam pelajaran (JP), yang dijalankan dalam kurun waktu 6 bulan. Alokasi waktu tersebut terdiri dari paparan kebijakan 4 JP, pelatihan daring 212 JP, lokakarya 64 JP, pendampingan individu 24 JP, serta evaluasi program 6 JP.


Dengan dilewati proses pembelajaran yang cukup banyak, padat dan tidak mudah tersebut, Imam Edhi Priyanto menyebut bahawa Guru Penggerak ini bak Kopassus dalam dunia Pendidikan.
“Guru Penggerak ini ibaratnya Kopassus yang sudah dibekali dengan banyak latihan”, ujar Imam.

Kemudian imam juga menyebutkan bahwa calon guru Penggerak yang sudah lulus menjadi guru Penggerak maka mendapatkan kesempatan untuk menjadi Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.

“Salah satu bonus bagi guru penggerak adalah dapat menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah. Namun itu hanya merupakan bonus, yang terpenting adalah bagaimana mendesain pembelajaran yang menyenangkan dan berfokus kepada peserta didik”, ujarnya.

Penulis: Angga Putra Kelana

Dilihat 30 Kali